Postingan

Sejarah Kebahasaanku

Masa kecil saya saya habiskan dengan berpindah-pindah tempat. Sampai kelas 3 SD saya bersekolah di Mentawai. Pada masa ini saya menggunakan bahasa Indonesia dengan campuran bahasa Mentawai. Bahasa Indonesia dengan logat dan dialek Batak karena orangtua dan masyarakat yang saya hadapi merupakan pengguna logat dan dialek tersebut. Tugas menulis yang pertama saya rasakan ketika masih TK. Saat itu guru TK saya melihat bahwa saya suka membaca majalah Bobo—sebuah majalah anak-anak, dan di salah satu kolom disediakan ruang untuk mendapatkan sahabat pena. Saya pun diajar dan dibimbing untuk menulis surat kepada sahabat pena yang tersedia di majalah tersebut namun saya tidak pernah tahu apakah surat tersebut dikirimkan atau tidak. Kelas 5 SD hingga 3 SMP saya bersekolah di Tangerang yang menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta (loe-gue). Di periode inilah saya sering mendapatkan tugas untuk membuat suatu karangan bebas dengan panduan gambar-gambar yang sudah ditentukan oleh gur...

Jangan dibaca ini hanya arsip

Hari ini tak bisa tidur. Mungkin karena penyakit insomniaku yang mulai kambuh. Memang kemarin aku tidur sampai sore. Rusaak badan. Trus malam mulai lagi menonton ditambah juga kawan-kawan begadang untuk main ludo. Kaaacau hidup ini. Memang banyak sekali yang nginap di kos ku ini. Macam udah jadi base camp saja. Kawan yang mau ujian jam 1 siang pun lebih milih main ludo. Paaraahlah. Gimana mau jadi anak muda produktif kalau perilaku masih seperti ini. Disadari yang kami lakukan ini salah namun kadang pikiran sudah mulai tak peduli lagi dengan slogan apalah, produktiflah, semangat mudalah. Yang ingin kami lakukan adalah menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk menghilangkan jenuh dan pikiran yang semakin berat. Beratlah bos. Ya kami sebenarnya adalah kumpulan orang-orang yang kalah. Kalah dalam perjuangan hidup. Gimana gak kalah? Teman-teman seumur kami sudah tamat kuliah bahkan sudah bekerja. Nah, kami? Tamat kuliah saja belum. Skripsi pun belum. Gimana gak jenuh itu pikiran? B...

Begadang

Gambar
Begadang jangan begadang  kalau tiada artinya  Begadang boleh saja asal ada perlunya Itu adalah sepenggal lirik lagu Rhoma Irama yang mengajarkan agar penggemarnya tidak begadang apabila tidak terlalu mendesak. Lirik ini sangat cocok bagi untuk menjadi nasehat bagi anak-anak muda khususnya bagi mahasiswa yang jauh dari orang tua dan tinggal di kos. Begadang sudah lama menjadi salah satu "penyakit" yang membuat mahasiswa menjadi tidak produktif. Saya sendiri mulai banyak begadang sejak jauh dari rumah dan tinggal di kos. Akhir-akhir ini penyakit begadang semakin sering karena banyaknya kawan-kawan yang berkunjung di kos lalu mengobrol dan main hingga larut malam. Saat awal semester begadang hanya dilakukan ketika harus mengerjakan laporan-laporan yang harus dikumpul esok harinya. Karena laporan tersebut menentukan nilai akhirnya dipaksakan untuk dikerjakan bahkan tidak tidur hingga esok harinya. Namun, setelah menjalani beberapa semester begadang menjadi kebiasaan. A...

Hikmah Surat Ahok

Rumah Tahanan Depok, Minggu 21 mei 2017 Kepada relawan dan pendukung Ahok yang saya cintai, semua yang telah menjalani proses demokrasi di mana pun berada. Saya telah banyak berpikir tentang kejadian yang saya alami. Saya mau berterima kasih kepada saudara-saudara yang terus mendukung saya dalam doa, kiriman bunga, makanan, kartu ucapan, surat, buku-buku, bahkan dengan berkumpul dengan menyalakan lilin. Saya tahu tidak mudah bagi saudara menerima kenyataan seperti ini. Apalagi saya... Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara, alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang menganggu lalu lintas. Tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak yang akan menunggangi jika para relawan berunjuk rasa, apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita. Terima kasih telah melakukan u...

Menyiapkan Generasi Millenial GMKI Untuk Indonesia

Salam sejahtera bagi kita semua, Syalom! Hadirin Anggota dan Pengurus Pusat serta senior member GMKI Yang Tercinta, Marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah Bapa, Pencipta langit dan bumi atas penyertaannya pada kita hingga saat ini Untuk memulai pidato ini ijinkan saya menceritakan pengalaman pertemuan saya bersama kawan-kawan GMKI Dumai dengan Sahat Martin Sinurat, Ketum GMKI. Pertemuan itu terjadi di SC GMKI Dumai ketika bang Sahat masih menjadi calon ketum. Pertemuan itu diisi dengan pemaparan visi dan misi ketum Sahat untuk pergerakan GMKI. Saat itu beliau mengatakan di tengah keterbukaan informasi dan lalu lintas dunia saat ini, GMKI harus menyiapkan kader untuk menghadapi persaingan ekonomi maupun kreativitas. Selain itu, GMKI juga harus menyiapkan pemuda Kristen untuk Indonesia Emas 2045. Saat dimana generasi pemuda Indonesia lebih banyak dibandingkan generasi tua. Generasi tersebut saya namakan generasi millennial. Suatu generasi yang belajar bukan hanya dari se...

Berserah

"Antara penghuni alam keabadian dan manusia di dunia terdapat hubungan yang terus menerus, dan semuanya mengikuti kehendak daya tanpa mata lahiriah. Seringkali seorang pribadi melakukan sesuatu dan mengira bahwa langkah itu atas kehendak bebas, anjuran batin dan perintahnya sendiri, tetapi sebenarnya dia digiring dan diharuskan secara cermat untuk melakukannya. Banyak orang besar mencapai kebesarannya dengan berserah diri secara pasrah sepenuhnya pada kehendak roh, tanpa keengganan atau perlawanan pada tuntutan-tuntutannya, laksana biola yang menyerahkan diri pada kehendak penuh seorang pemain musik ulung" (Kahlil Gibran) Kutipan ini saya baca dalam buku Lagu Gelombang karya Kahlil Gibran. Menurut seorang tokoh dalam cerita ini, seorang manusia boleh saja berpendapat bahwa apa yang dilakukannya ialah atas keinginan diri sendiri, suatu kehendak bebasnya. Namun ternyata apa yang sedang dikerjakannya sebenarnya merupakan kehendak roh yang menuntunnya. Orang tersebut hanya men...

Tragedi Untuk Ditertawakan

Jiwa kita sedih sehingga mencari penghibur Ke Kanan pergi tak dijumpai Ke Kiri hampiri hanya ada kesusahan Tawa hanya jadi sandiwara semata Jiwa tetap merana   Pikirku Dengan musik mungkin lebih baik Dengan buku mungkin membantu Dengan Alam mungkin menenangkan Ternyata semua hanya kekosongan  Apa kah ini hakikat kehidupan? Bukankah ini Tragedi? Yang dikemudian hari menjadi kisah memalukan atau untuk ditertawakan?