Apakah Kuliah adalah Tanggung Jawab?
Beberapa
hari yang lalu ada yang mengatakan kepadaku bahwa aku harus menuntaskan
tanggungjawabku. Aku mengiyakan kalimatnya. Tetapi kemudian saat aku tanya,
“tanggung jawab apa yang kau maksud?”. Dia menjawab, “selesaikan kuliahmu
dengan mendapatkan gelar sarjana.” Saya tertawa terbahak-bahak. Mengapa saya
tertawa? Saya akan menjelaskannya dengan rinci kepadamu.
Menurut
KBBI, pengertian tanggungjawab ialah; keadaan
wajib menanggung segala sesuatu (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut,
dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya). Pengertian kedua, fungsi menerima pembebanan, sebagai akibat
sikap pihak sendiri atau pihak lain.
Untuk
menjawab apakah kuliah merupakan sebuah tanggung jawab, kita harus tahu
definisi kuliah. Kuliah adalah pelajaran yang diberikan di perguruan tinggi—atau
dengan kata lain—pendidikan. Menurut KBBI, pendidikan adalah; “proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara,
perbuatan mendidik.” Kata kunci dari pengertian pendidikan ini ialah proses pengubahan sikap.
Lalu
bagaimana dengan gelar sarjana?
Kita semua
mengetahui bahwa gelar sarjana didapatkan setelah seseorang mengikuti pelajaran
dan pelatihan sesuai aturan main kampus yang sudah ditetapkan. Apakah orang
yang tidak bergelar sarjana tidak berpendidikan? Belum tentu! Karena dari
pengertian pendidikan diatas, kita melihat bahwa proses pengubahan sikap dapat dilakukan dimana saja dan tidak harus
dibangku kuliah, bahkan bisa saja orang yang sudah kuliah dan mendapatkan gelar
sarjana masih berperilaku tidak rasional, melanggar etika, moral dan hukum.
Kalau ini tentu banyak contohnya. Lihat saja berita di televisi, koran, dll.
Jadi, apakah
kuliah dan mendapatkan gelar sarjana merupakan tanggungjawab? Jawaban saya
tidak. Sebentar, jangan langsung bantah dong! Saya akan jelaskan maksud saya.
Agar lebih
jernih dalam melihat permasalahan pikiran ini, kita harus memilah pertanyaan
tersebut. Kita pilah menjadi dua pertanyaan;
1. Apakah kuliah merupakan
tanggungjawab?
2. Apakah mendapatkan gelar sarjana
merupakan tanggungjawab?
Saya akan
menjawab kedua pertanyaan tersebut.
1. Jawaban saya untuk pertanyaan
pertama ialah tidak. Untuk memasuki
suatu perguruan tinggi memerlukan biaya, mental dan dukungan dari berbagai
pihak. Sehingga banyak orang yang tidak mampu untuk melakukannya. Namun tentu
saja, kuliah bukanlah satu-satunya pendidikan. Pendidikan dapat dilakukan
dimana saja. Selama hasilnya ialah perubahan sikap menjadi lebih baik maka itu
dapat dikatakan pendidikan. Jadi bisakah tanpa kuliah orang merubah sikap dan menjadi
sukses dalam hidupnya? Ya, tentu. Begitu banyak tokoh yang sama sekali tidak
kuliah malah sukses besar. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah masuk
universitas namun tidak menyelesaikan kuliahnya (drop out)? Pertanyaan ini
seirama dengan pertanyaan nomor 2 kita.
2. Banyak orang sudah memasuki
perguruan tinggi namun tidak menyelesaikan kuliahnya dan tidak mendapatkan
gelar sarjana? Apakah dia dikatakan orang yang tidak bertanggungjawab? Jawaban
saya tidak. Tidak ada hubungan
antara tidak mendapatkan gelar sarjana dengan tidak bertanggungjawab.
Tujuan memasuki perguruan tinggi (kuliah) bukanlah untuk mendapatkan
gelar, baik itu diploma, sarjana, atau magister. Tujuan kuliah ialah mengubah sikap dan tingkah laku (lihat kembali
pengertian KBBI). Maka, jika ada beberapa orang tidak menyelesaikan kuliah tidak
menjadi ukuran apakah dia bertanggungjawab atau tidak.
Kita melihat seseorang bertanggungjawab atau tidak itu dari perilakunya,
bagaimana dia melaksanakan tugas dan kekuasaan yang ada padanya (Silahkan lihat
pengertian tanggungjawab menurut KBBI). Di dunia ini banyak orang yang tidak
menyelesaikan kuliahnya (drop out) namun berhasil dan bertanggungjawab dalam
pekerjaannya. Contohnya saja; Zukerberg (pendiri facebook), Bill gates (pendiri
Microsoft), dan masih banyak lagi.
Kau masih
tidak terima penjelasanku? Ah, mungkin kita berbeda sudut pandang saja.
Baiklah, saya akan mencoba melihat dari sudut pandangmu. Mungkin saja sudut
pandangmu seperti ini
“Orangtuamu
mengatakan bahwa kamu wajib menyelesaikan kuliahmu. Ia memberikan uang kost dan
kuliah agar engkau menyelesaikan kuliahmu, mendapatkan gelar sarjana dan
nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Maka, kamu pun menanamkan dalam
pikiranmu bahwa kuliah dan mendapatkan gelar sarjana adalah bentuk
tanggungjawabmu kepada orangtuamu yang telah memberikan biaya kepadamu.”
Benarkah
itu cara berpikirmu? Oh, kawan betapa mulianya hatimu untuk menyenangkan hati
orangtua. Saya akan langsung menjelaskan pendapatku mengenai sudut pandang ini.
Ya, saya
sepakat bahwa menyenangkan orangtua adalah hal mulia. Bukankah secara moral dan
etika kita diminta untuk menghormati orang tua dan menyenangkan hati mereka?
Tetapi bagi saya cara berpikir ini salah. Ini adalah cara berpikir utilitarian.
Orangtuamu berpikir bahwa pendidikan itu untuk mendapatkan keuntungan (manfaat)
sebesar-besarnya. Ia merasa dengan menguliahkan anaknya maka kesempatanmu untuk
bersaing dan kemudian mengalahkan orang lain lebih besar dalam mendapatkan
pekerjaan. Sederhananya—menurut orangtuamu—pendidikan adalah untuk mengalahkan
orang lain. Aih, betapa naifnya!
Sudut
pandang lain
“Orang
mengatakan padamu bahwa dalam hidup engkau harus bertanggungjawab menyelesaikan
tugasmu dengan sebaik-baiknya dan dengan sekuat tenaga dan segenap jiwa. Demi
Tuhan dan masyarakat. Salah satunya ialah menyelesaikan kuliah”
Nah, kalau
sudut pandang ini saya setuju dan memberikan beribu hormat kepada yang mampu
melaksanakannya.
Dengan
memakai sudut pandang ini maka seharusnya engkau kuliah dengan baik. Bagaimana kuliah
dengan baik?
Dengan
belajar dengan giat, berusaha memahami setiap topik pelajaran, membaca buku
referensi, mengerjakan tugas kuliah, melakukan penelitian dengan serius dan
jujur. Bukan demi keuntungan diri sendiri, keluarga dan kelompok. Tetapi untuk
memaksimalkan potensi diri. Inilah yang dikatakan bertanggungjawab.
Aih, tapi
betapa sering saya menemukan mahasiswa mengerjakan tugas dengan plagiat,
nyontek saat ujian, kuliah tidak serius, skripsi asal-asalan dan banyak oknum
kampus tutup mata terhadap pelanggaran etika ini. Ada juga kampus atau jurusan
yang hanya modal nama (brand) saja
padahal didalamnya sama sekali tidak mencerminkan akreditasi yang dipunyai.
Saya sendiri pernah menemukan jurusan yang didalamnya alat-alat praktikum saja
sudah karatan, bahan praktikum kadarluarsa, dosen yang kurang kompeten dengan
mata ajarannya. Sehingga kampus menjadi tempat kebohongan dan pembodohan.
Ah, untuk
apa menjadi sarjana jika tak terdidik?
Komentar
Posting Komentar