Menyiapkan Generasi Millenial GMKI Untuk Indonesia

Salam sejahtera bagi kita semua, Syalom!
Hadirin Anggota dan Pengurus Pusat serta senior member GMKI Yang Tercinta,
Marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah Bapa, Pencipta langit dan bumi atas penyertaannya pada kita hingga saat ini

Untuk memulai pidato ini ijinkan saya menceritakan pengalaman pertemuan saya bersama kawan-kawan GMKI Dumai dengan Sahat Martin Sinurat, Ketum GMKI. Pertemuan itu terjadi di SC GMKI Dumai ketika bang Sahat masih menjadi calon ketum. Pertemuan itu diisi dengan pemaparan visi dan misi ketum Sahat untuk pergerakan GMKI. Saat itu beliau mengatakan di tengah keterbukaan informasi dan lalu lintas dunia saat ini, GMKI harus menyiapkan kader untuk menghadapi persaingan ekonomi maupun kreativitas. Selain itu, GMKI juga harus menyiapkan pemuda Kristen untuk Indonesia Emas 2045. Saat dimana generasi pemuda Indonesia lebih banyak dibandingkan generasi tua. Generasi tersebut saya namakan generasi millennial. Suatu generasi yang belajar bukan hanya dari sekolah formal namun juga dari gadget dan internet  yang isinya lengkap dari berbagai macam filsafat dan ajaran dari seluruh dunia.
Saya sepenuhnya sepakat dengan pendapat yang dikemukakan ketum tersebut. Untuk itu GMKI Pusat maupun cabang harus mengadministrasi  dan menyiapkan kemampuan tiap-tiap kader juga melengkapinya dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang diperlukan tiap-tiap kader di setiap cabang.

Saudara-Saudara yang dikasihi Yesus, Tuhan Kita, Sang Kepala Gerakan,

Tidak dapat kita pungkiri, generasi yang saat ini berkecimpung di dalam GMKI merupakan generasi awal millennial. Ini dapat kita buktikan dengan melihat bahwa hampir semua kader sudah mempunyai gadget yang terhubung dengan media social seperti facebook, Instagram, twitter, you tube, dll. Kader sudah tidak terbatas dalam memperoleh ilmu, bukan lagi dari bangku kuliah dan organisasi. Kader sudah dapat mencari pengetahuan sendiri dimana saja dan kapan saja. Sehingga GMKI pun tidak boleh mengandalkan pendidikan kader melalui pertemuan-pertemuan tatap muka. GMKI harus menyediakan suatu media pembelajaran kader secara daring (online).

Saudara Pengurus Pusat, anggota dan senior member yang diberkati Rohul Kudus

Hari ini kita melihat bahwa terjadi tren penurunan kuantitas anggota organisasi. Mahasiswa berkurang minatnya untuk berkecimpung di GMKI. Ini diakibatkan GMKI sudah tidak mempunyai daya tarik bagi generasi millennial ini. GMKI masih menggunakan cara-cara kuno dalam kegiatannya. Misalkan: Maper masih diisi dengan seminar-seminar yang kaku dan membosankan, juga diskusi yang rumit dan penuh dengan tatacara yang ribet
Saudara-saudara, sudah seharusnya acara-acara GMKI dibuat senyaman dan semenyenangkan mungkin bagi generasi millennial ini. Generasi millennial ini tidak boleh kita biarkan mendapatkan pengetahuannya dari sumber yang asal-asalan. Kita harus menyaring setiap informasi dan menyiapkan pengetahuan yang nantinya berguna untuk membentuk pola pikir yang sesuai dengan Alkitab dan menurut kehendak Allah. Untuk itu di perlukan instrument yang tepat. Ada beberapa usul yang akan saya kemukakan dalam kesempatan ini.

Hadirin yang Saya Banggakan

Usul yang pertama ialah : Membuat media berbagi video (Vlog) GMKI
Dunia media social pernah dihebohkan dengan video pendek dari jokowi bersama putranya Kaesang. Video tersebut berisi tips berlatih memanah dari Jokowi yang diselingi petuah-petuah. Video ini bukan saja mengajarkan cara memanah yang baik namun juga berisi bahwa setiap pekerjaan memerlukan focus dan konsentrasi dan tujuan yang jelas. Video ini sudah ditonton sebanyak 598 ribu kali. Masih banyak video-video pendek lain yang memberikan nasehat-nasehat namun tidak membosankan bahkan sangat popular di kalangan anak muda, seperti Cameo project, dll.
Ini membuktikan bahwa generasi millennial menyukai petuah dan nasehat dalam bentuk video-video pendek. GMKI dapat membuat video pendek yang menceritakan interaksi-interaksi antar anggota atau pengalaman pengurus yang diselingi petuah atau nasehat dari Alkitab atau Bapa Gereja.
Tentu saja untuk membuat video pendek yang berkualitas harus melakukan riset dan penulisan dialog yang serius. Oleh karena itu kader perlu dibekali kemampuan menulis yang baik.  

Saudara-saudara yang dikasihi Yesus Kristus

Usul saya yang kedua ialah : Pemberian pembekalan pelatihan menulis baik itu produk jurnalistik maupun opini.
Menulis adalah hal yang harus dikuasai oleh kader. Dengan mengetahui teknik-teknik menulis maka segala kejadian, ide atau usul dapat diutarakan secara jelas dan sistematis. Ada berbagai teknik menulis salah satunya ialah teknik jurnalistik. Dengan mengetahui dan melakukan jurnalistik, kader dapat menyampaikan kondisi fakta yang berhubungan dengan gereja, masyarakat atau perguruan tinggi.
Di dalam kurikulum GMKI (PDSPK 2006) sudah memberikan petunjuk bagaimana melakukan pelatihan jurnalistik. Namun, GMKI perlu menambahkan teknik penulisan opini populer, ini sesuai dengan jiwa generasi millennium yang tidak terlalu suka hal-hal yang kaku dan serius. Generasi millennium lebih menyukai bahasa yang bebas dan lucu.

Hadirin yang saya muliakan,

Dengan mengetahui teknik menulis maka kader lebih mudah  melakukan analisis social yang terjadi dalam masyarakat sehingga dapat masalah-masalah yang ada dapat dicarikan solusinya. Untuk melakukan analisis social maka kader dituntut peka dan mempunyai rasa empati yang tinggi. Untuk mempunyai kepekaan dan rasa empati yang tinggi maka kader harus tinggi iman.

Saudara-saudara sekalian,

Dalam sejarahnya, GMKI dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang membahas Alkitab dan kehendak Allah dalam kehidupan orang percaya. Namun, akhir-akhir ini spiritualitas Kader GMKI sudah terlihat tidak menonjol. Integritas anggota GMKI dalam berkuliah dan bermasyarakat sering terlihat kurang baik. Saya mengusulkan hal yang Ketiga : Gerakan Membaca Alkitab Setiap Hari Bagi Segenap Civitas GMKI.
Suatu hari Ahok pernah menceritakan tentang perumpamaan, seorang anak yang sekolah atau kuliah saat ujian mata pelajaran yang akan diujiankan selalu diberitahu, namun dalam kehidupan sehari-hari dalam menghadapi ujian hidup kita tidak diberitahu ujian apa yang akan kita hadapi. Dengan menggunakan Alkitablah kita mampu  belajar dari kejadian hidup tokoh-tokoh dan Tuhan dalam menghadapi pergumulan hidup.
Anggota GMKI juga berkewajiban menghadirkan “Syalom” Allah ditengah-tengah perguruan tinggi, gereja dan masyarakat. Namun, jika civitas GMKI tidak membaca Alkitab setiap hari bagamana mngkin dapat membantu dan menghadirkan Syalom Allah?
Dengan menjalankan ketiga program ini saya meyakini bahwa GMKI akan hadir kembali dalam menghasilkan pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan, berintegritas dan professional bagi Negara kita tercinta, Indonesia. Sehingga Indonesia mampu menyambut zaman Indonesia emas 2045 dengan rasa sukacita.
Akhir pidato, Ijinkan saya mengutip perkataan pendeta Stephen Tong, “Pemimpin adalah seorang yang bisa melihat zaman yang akan datang dan mampu membawa orang sezamannya menuju zaman yang baru.
Demikian Pidato Singkat Saya,

Tinggi Imanmu
Tinggi Ilmumu
Tinggi Pengabdianmu
Syalom!






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indjil dan Komunisme di Asia Afrika

Betapa Banyaknya Ilmu Yang Harus Dipelajari

Zinah