Puisi Paskah
There is a Fountain, Filled With Blood (By William Cooper, 1722)
There is a fountain, filled with blood, drawn from Emmanuel's vein.
And sinners plunged beneath that flood, lose all their guilty stains.
Lose all their guilty stains, lose all their guilty stains,
And sinners plunged beneath that flood, lose all their guilty stains.
E'er since, by faith, I saw the stream Thy flowing wounds supply,
Redeeming love has been my theme, and shall be till I die.
And shall be till I die, and shall be till I die;
Reedeming love has been my theme, and shall be till I die
Puisi ini sangat cocok dibaca dan dihayati saat paskah, tetapi waktu saya menemukan puisi ini pertama kali, bukanlah saat paskah. Namun, ketika saya membacanya ada rasa syukur yang besar kepada Tuhan Yesus Kristus. Pencipta puisi ini seperti memberikan jiwanya dalam menuliskan puisi ini sehingga saya merasa terharu, dan penulisnya mampu membuat saya menghayati kembali pengorbanan Tuhan kepada seluruh umat manusia. Kamu dan saya. Kita semua.
Saya memang sering begini, sebentar merasa bahwa Tuhan sudah baik sama saya namun terkadang saya diserang rasionalitas. Sering merasa Tuhan itu tidak berperan dalam hidup saya. Saya sering tertawa memikirkan kebodohan ini. Jika saya adalah ciptaan, mengapa saya "sok merasa" menentukan apakah pencipta saya ada atau tidak? Bukankah dengan mengakui bahwa saya ada dan eksis secara tidak langsung mengatakan bahwa pencipta saya ada dan eksis? Ah, mengapa hidup ini naif sekali?
Ah, sudahlah biarlah kita nikmati puisi ini dan merasakan betapa Tuhan sudah baik sepanjang hidup. Tuhan adalah Tuhan. Manusia harus melayaninya segenap hati dan jiwa.
There is a fountain, filled with blood, drawn from Emmanuel's vein.
And sinners plunged beneath that flood, lose all their guilty stains.
Lose all their guilty stains, lose all their guilty stains,
And sinners plunged beneath that flood, lose all their guilty stains.
E'er since, by faith, I saw the stream Thy flowing wounds supply,
Redeeming love has been my theme, and shall be till I die.
And shall be till I die, and shall be till I die;
Reedeming love has been my theme, and shall be till I die
Puisi ini sangat cocok dibaca dan dihayati saat paskah, tetapi waktu saya menemukan puisi ini pertama kali, bukanlah saat paskah. Namun, ketika saya membacanya ada rasa syukur yang besar kepada Tuhan Yesus Kristus. Pencipta puisi ini seperti memberikan jiwanya dalam menuliskan puisi ini sehingga saya merasa terharu, dan penulisnya mampu membuat saya menghayati kembali pengorbanan Tuhan kepada seluruh umat manusia. Kamu dan saya. Kita semua.
Saya memang sering begini, sebentar merasa bahwa Tuhan sudah baik sama saya namun terkadang saya diserang rasionalitas. Sering merasa Tuhan itu tidak berperan dalam hidup saya. Saya sering tertawa memikirkan kebodohan ini. Jika saya adalah ciptaan, mengapa saya "sok merasa" menentukan apakah pencipta saya ada atau tidak? Bukankah dengan mengakui bahwa saya ada dan eksis secara tidak langsung mengatakan bahwa pencipta saya ada dan eksis? Ah, mengapa hidup ini naif sekali?
Ah, sudahlah biarlah kita nikmati puisi ini dan merasakan betapa Tuhan sudah baik sepanjang hidup. Tuhan adalah Tuhan. Manusia harus melayaninya segenap hati dan jiwa.
Komentar
Posting Komentar