Sejarah Kebahasaanku

Masa kecil saya saya habiskan dengan berpindah-pindah tempat. Sampai kelas 3 SD saya bersekolah di Mentawai. Pada masa ini saya menggunakan bahasa Indonesia dengan campuran bahasa Mentawai. Bahasa Indonesia dengan logat dan dialek Batak karena orangtua dan masyarakat yang saya hadapi merupakan pengguna logat dan dialek tersebut. Tugas menulis yang pertama saya rasakan ketika masih TK. Saat itu guru TK saya melihat bahwa saya suka membaca majalah Bobo—sebuah majalah anak-anak, dan di salah satu kolom disediakan ruang untuk mendapatkan sahabat pena. Saya pun diajar dan dibimbing untuk menulis surat kepada sahabat pena yang tersedia di majalah tersebut namun saya tidak pernah tahu apakah surat tersebut dikirimkan atau tidak.

Kelas 5 SD hingga 3 SMP saya bersekolah di Tangerang yang menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta (loe-gue). Di periode inilah saya sering mendapatkan tugas untuk membuat suatu karangan bebas dengan panduan gambar-gambar yang sudah ditentukan oleh guru. Kami diminta untuk membuat cerpen, essay ataupun deskripsi sebagai syarat utnuk mendapatkan nilai dalam pelajaran bahasa Indonesia. Selama periode ini saya menulis hanya untuk mengerjakan tugas. Tidak pernah saya menulis diary yang merupakan tren untuk anak-anak seumur kami saat itu. Ada memang keinginan untuk menulis cerpen ataupun puisi untuk dikirimkan ke majalah anak-anak namun saya tidak mempunyai seseorang yang membantu untuk mewujudkan hal tersebut. Dan keinginan itupun perlahan mulai hilang.

Bagi saya menulis itu tidak terlalu susah jika hanya mengungkapkan perasaan namun jika ide-ide besar diwujudkan dalam tulisan dengan tujuan dapat menarik dan menginspirasi orang lain sangatlah susah. Kesulitan yang saya rasakan ialah dalam penyusunan dan pemilihan kata agar tidak menimbulkan salah persepsi bagi pembaca.

Selama hidup saya buku yang saya baca sangatlah beragam. Waktu Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD) bacaan saya ialah buku anak-anak bergambar. Biasanya bercerita tentang kisah dalam Alkitab ataupun ajaran moral lainnya. Saat SD kelas 4 saya sudah mulai membaca koran dan kolom yang saya sukai ialah olahraga dan humor. Saat SMP kelas satu saya mulai membaca novel. Saya masih ingat novel tebal pertama yang saya baca berjudul 24 Wajah Billy. Sebuah novel milik kakak saya yang kuliah Psikologi. Buku ini berkisah tentang seorang anak yang mempunyai banyak kepribadian dalam satu tubuh.

Saat SMA buku yang saya baca sangatlah beragam. Mulai dari buku motivasi, novel, agama, cerpen, pengalaman nyata, majalah politik, majalah pertanian, dll. Namun yang paling saya nikmati ialah novel-novel yang bertemakan kehidupan sehari-hari.

Hal yang saya sesali sekarang ialah saya tidak menyimpan tulisan-tulisan yang pernah saya buat, baik itu cerpen, puisi ataupun buku harian. Saya tidak pernah menyimpan tulisan yang saya buat menggunakan tulisan tangan. Ini dikarenakan tulisan tangan saya sangat tidak rapi dan saya sendiri malas membaca tulisan tangan tesebut. Sekarang setelah menyadari bahwa pengarsipan tulisan sangatlah penting dan saya sudah mempunyai laptop, saya selalu menyimpan hasil tulisan saya di penyimpanan laptop ataupun menerbitkannya dalam blog saya.

Ada kekurangan dalam kebudayaan dan kebiasaan di tempat saya. Kekurangan itu ialah kebiasaan dalam menulis surat sudah tidak ada lagi. Ini diakibatkan sudah canggihnya system komunikasi saat ini. Orang dalam berhubungan sudah menggunakan aplikasi seperti Whatsapp, Line, messenger, Path, Instagram,dll. Dalam penggunaan surat, karena waktu pengiriman sangatlah lama begitu juga balasan suratnya, orang menggunakan kalimat yang runtut dan seefektif mungkin sehingga jelas dan dapat ditangkap maksudnya oleh si penerima. Namun dalam penggunaan aplikasi, penulisan secara runtut dan jelas tidaklah terlalu diperhatikan. Ini dikarenakan pengiriman dan balasan sangatlah cepat sehingga orang dapat berulang-ulang dan mudah menjelaskan maksudnya.

Dalam penulisan laporan praktikum, atau makalah ataupun surat resmi saya berusaha untuk menggunakan penjelasan yang sistematis namun dikarenakan waktu yang sempit ataupun rasa malas dalam mengerjakan tugas tersebut saya juga sering tidak menggunakan kaidah-kaidah yang benar dalam penulisan.

Setelah dewasa saya kemudian menghadapi berbagai jenis bahasa dan cara berbicara yang berbeda. Misalnya orang batak yang lebih lugas dan tegas dalam mengungkapkan maksudnya, orang minang yang sering menyembunyikan maksud sebenarnya dan lebih memilih kalimat yang “berputar”, orang jawa yang halus dalam penggunaan kata, orang Mentawai dan Nias yang selalu menyisipkan lelucon atau sindiran dalam kata-katanya, dll.


Dalam penggunaan bahasa saya dapat menggunakan 3 bahasa antara lain bahasa Indonesia, bahasa batak dan bahasa Mentawai. Namun dalam penggunaan bahasa batak dan Mentawai hanya perkataan sederhana sajan namun secara literatur dan formal belum mampu saya gunakan. Ada beberapa kata yang susah diungkapkan dalam beberapa bahasa. Misalkan kata bosan dalam bahasa Indonesia. Kata ini dalam bahasa Indonesia berarti jenuh, tidak suka lagi karena terlalu sering. Namun padanan kata ini dalam bahasa Batak dan Mentawai sangat susah didapat. Kata batak yang paling dekat ialah Busisaon yang berarti gelisah. Begitu juga dengan kata Mentawai, kata yang paling dekat ialah Magela yang berarti malas. Inilah beberapa kesusahan dalam penggunaan bahasa yang saya gunakan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indjil dan Komunisme di Asia Afrika

Betapa Banyaknya Ilmu Yang Harus Dipelajari

Zinah