Indjil dan Komunisme di Asia Afrika
Resume
Buku
Oleh
Roy Lampos
Judul Asli : Evangelie En Communisme in Azie En Africa
Pengarang : Prof. Dr. J. Verkayl, Guru
Besar Vrie University
Alih Bahasa : Trisno Sumardjo
Penerbit : Badan Penerbit Kristen-Jakarta
Jumlah Halaman :198 Halaman
ISBN :-
Komunisme
adalah salah satu paham yang menarik bangsa Asia dan Afrika saat masa
perjuangan kemerdekaannya. Di asia dan kemudian terutama juga di Afrika,
terutama dalam dasawarsa ketiga abad ini, banyaklah yang terpesona oleh
eksperimen Lenin c.s di Rusia yang dimulai pada tahun 1917. Namun, kemudian
tahun 1950 Peking disamping Mokswa muncul dan menjadi pusat kedua radiasi
komunis. Apa yang menjadi daya tarik komunis Rusia dan Tiongkok bagi Asia dan
Afrika? Dari buku kita dapat dengan mudah memahaminya. Asia dan Afrika yang
sedang berjuang melawan penjajah mempunyai banyak persamaan dengan Rusia yang
berhasil berjuang melawan rezim Tsar (abad 18 dan 19) kemudian Tiongkok yang
berhasil menanggulangi kemiskinan, kepadatan penduduk, buta huruf dari negeri
ini. Orang melihat bangsa Tiongkok membangun infrastruktur ekonomi : jalanan,
irigasi, elektrifikasi, dan sebagainya; melihat pembangunan industri-industri
dasar; melihat pengembanan masalah-masalah kebudayaan; melihat cara-cara
tertentu untuk mempengaruhi khalayak yang mendobrak segala perlawanan dari
golongan-golongan yang biasanya menentang modernisasi.
Selain menceritakan latar belakang dan daya tarik
komunisme bagi bangsa Asia dan Afrika, penulis kemudian membandingkan
perkembangan komunisme di asia dan afrika dan pernyebaran injil baik oleh
Protestan maupun Katholik bagi bangsa Asia (Khususnya Tiongkok) dan Afrika.
Beberapa yang dibahas dalam buku ini, antara lain:
1. Tiongkok Sebagai Kubu Gerakan
Komunis di Asia dan Afrika
Penyerbuan
Leninisme Marxis di Tiongkok didahului oleh gerakan zending terbesar yang
pernah dilakukan dalam sejarah. Bukan Leninisme marxis, melainkan penyebaran
agama Kristen di Tiongkok-lah yang membangkitkan kesadaran bahwa bentuk-bentuk
otokratis yang sangat feodal di masyarakat itu harus dirubah sampai ke
akar-akarnya; bahwa keadaan tak tertahankan lagi dan bahwa manusia dan
masyarakat memerlukan bantuan. Menariknya dikatakan bahwa yang mula-mula
memegang pimpinan dalam proses-proses perubahan besar di Tiongkok adalah
orang-orang yang dipengaruhi agama Kristen. Buku ini kemudian menceritakan
sejarah pra-komunisme, seperti : Pemberontakan T’aiping (1851-1864), Program
nasional Dr. Sun Yat Sen, Cita-cita Chiang Kai Sek, hingga jalan gerakan
komunis di Tiongkok kearah pengambil-alihan kekuasaan, berdirinya PKT (Partai
Komunis Tiongkok),dll. Dalam Bab ini dibahas lebih dalam bagaimana cara dan
taktik Mao Tse Tung dalam merebut pemerintahan hingga dalam memperkuat
dominasinya.Perlu kita garis bawahi taktik perang gerilya Mao menjadi pedoman
banyak negara komunis lainnya dalam berperang gerilya.
2. Pengaruh Tiongkok dan Rusia Serta
Partai-Partai Komunis di Asia dan Afrika
Dalam
bab ini banyak diceritakan bagaimana pengaruh Komunisme Tiongkok dan Komunisme
Rusia terhadap negara-negara di asia dan afrika. Walaupun berasal dari sumber
yang sama, namun komunisme Tiongkok dan Komunisme Rusia terdapat perbedaan yang
besar. Kedua negara ini kemudian bersaing untuk merebut pengaruh dari berbagai
negara-negara di asia dan afrika. Dalam buku ini dipaparkan sejarah
negara-negara yang dipengaruhi komunis dan beberapa diantaranya menjadi negara
komunis hingga saat ini. Beberapa ini antara lain; Mongolia (Partai Tsedenbal),
Korea Utara, Jepang(Partai Komunis Jepang), Vietnam (Vietcong), Indonesia (PKI,
Gerindo, PARI, Partai Buruh,dll), India, Aljazair, Mali, Guinea, Ghana,
Nigeria, Liberia, Kamerun, Kongo, Kenya, Tanzania dan Afrika Selat.
3. Gereja-Gereja Protestan di Tiongkok
Dibawah Pemerintahan Komunis
Dalam
bab ini banyak dipaparkan mengenai situasi zending protestan di Tiongkok sebelum
dan setelah negara ini dikuasai oleh pemerintahan komunis. Dimulai dari
datangnya zending Protestan, Robert Morrison (1807) yang disusul oleh perintis
lainnya.
Bila
ingin mempelajari sejarah penginjilan terbesar di Tiongkok yang pernah ada ini,
kita harus melihat; Bagaimana perintisannya (1807-1842) Bagaimana keadaannya
dalam abad ke 20? Apa saja yang dilakukan para penginjil ini? Siapa saja atau organisasi
apa saja yang ikut ambil bagian dalam penginjilan. Jika ingin mendapat jawaban
pertanyaan diatas, saya berharap saudara membaca buku ini. Tetapi lebih dari
itu, bab ini juga membahas sebuah “kompromistas” yang dilakukan oleh pemimpin
kristen Tiongkok ketika berada dalam tekanan pemerintah komunis. Sebuah Manifes
Kristen (Mei 1950) disusun dan ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin Kristen
Tiongkok setelah Perdana Menteri Chou En Lai bertemu dengan mereka. Setelah
terbuatnya manifes ini maka gereja Tiongkok memutuskan segala hubungan dengan
gereja-gereja luar negeri (Tze-chih), gereja Tiongkok harus hidup tanpa
sokongan sama sekali dari luar negeri (Tze-yang), gereja Tiongkok harus memecat
personalia asing dan menyesuaikan tafsiran mereka tentang injil dengan politik
Tiongko Baru (Tze-ch’uan). Ketiga Rumusan inilah yang disebut Tri-otonomi. Banyak
yang mengatakan gereja Tiongkok sudah mati. Namun dengarlah kutipan kata-kata
Y.T. Wu, ketua gerakan antar-gereja untuk Tri Otonomi. Dari kata-katanya dapat
kita buktikan bahwa diapun memiliki kepercayaan yang hidup:
“Sejak
masa pembebasan kerap-kali kami dengar orang-orang Kristen bertanya: Apakah
agama Kristen masih punya hari-depan disini? Itu pertanyaan yang ganjil dimulut
orang Kristen. Apa yang terjadi dengan imannya? Percayakah ia bahwa Tuhan yang
kekal itu yang menciptakan langit dan bumi, hari ini atau besok tak akan hidup
lagi? Lupakah ia bahwa Kristus yang hidupNya penuh rahmat dan kebenaran itu,
kemarin dan sekarang masih tetap sama sampai kezaman kekal?Percayakah ia bahwa
Roh Kudus yang hingga kini telah menerangi dan memimpin kita, sekarang
tiba-tiba akan berhenti bekerja? Yang perlu kita khawatirkan bukannya apakah
Tuhan bisa dipercaya, melainkan apakah kita ini bisa
dipercaya............................................”
Sengaja
tidak saya tuliskan kata-kata tersebut secara lengkap, saudara dapat membaca
dari buku ini dengan lebih lengkap. Dalam
bab ini, juga diceritakan bahwa umat dan pemimpin Kristen di Tiongkok dituntut
untuk melakukan “penuduhan diri” dan melakukan kecaman kepada Dewan Gereja
Sedunia. Namun dikemudian hari, gereja barat tidak melakukan pembalasan tetapi
sebaliknya mengakui bahwa terdapat beberapa kesalahan dalam pola dan metode
penginjilan di Tiongkok. Kembali saya mengundang pembaca yang ingin belajar
“mengkritik diri” dan melakukan evaluasi untuk membaca buku ini. Kritik diri
ini sangat bermanfaat untuk merendahkan diri dalam memimpin dan mengajar,
khususnya pemimpin-pemimpin gereja.
4. Gereja Roma-Katolik di Republik
Rakyat Tiongkok
Jumlah
umat kristen roma-katolik di Tiongkok dulu dan sekarang jauh lebih besar
daripada jumlah orang Kristen Protestan. Sebab sejarah misi R.K sudah dimulai
abad ke 16, tatkala Matteo Ricci dan rohaniawan dari Societas Jesuit meletakkan
dasar-dasar gereja R.K. di Tiongkok.
Selama
pengambil-alihan kekuasaan oleh komunis dan selama masa konsolidasi pemerintah
komunis, gereja dan misi R.K. telah menderita jauh lebih banyak daripada umat
protestan. Kenyataan ini diakibatkan, pertama, ucapan-ucapan Vatikan terhadap
komunisme adalah anti-komunistis. Kaum Komunis juga memandang Vatikan sebagai
kubu reaksi dan sebagai alat imperialisme Amerika. Kedua, gereja ini kena
tekanan yang bukan main, karena gereja R.K.menurut susunan kegerejaannya dengan
sendirinya berada dalam yurisdiksi Vatikan, hingga dengan demikian mudah
menjadi sasaran bagi tuduhan yang begitu populer dikalangan komunis, yakni
bahwa gereja itu diperbudak kekuasaan luar negeri. Kebohongan kaum komunis yang
tak masuk akal sekalipun disebarluaskan. Suster-suster yang mengurus rumah
yatim piatu dengan banyak kasih dan ketelitian untuk mereka yang paling miskin
diantara yang miskin, dibawa kedepan umum sebagai pembunuh anak-anak. Berbagai
siasat pun dilancarkan pemerintah komunis untuk melemahkan gereja R.K ini. Namun
di kemudian hari Paus Paulus dalam ensikliknya menganjurkan supaya diadakan
dialog, juga dengan negara-negara komunis. Keterangan lebih lanjut dapat dibaca
langsung di buku ini.
Komentar
Posting Komentar