Ternyata Hitler Sangat Nasionalis dan Pengkritik Komunis
Saya sedang membaca buku Hitler yang sangat terkenal, judulnya Mein Kampf. Masih baca sedikit namun saya sangat tertarik untuk memasukkannya ke blog karena harus saya akui bahwa buku ini membangkitkan semangat untuk berjuang. Berikut sedikit resensinya dan akan terus bersambung seiring saya menyelesaikan membaca bukunya.
Bab I
Hitler menceritakan tentang
kehidupan Ayahnya yaitu seorang berkebangsaan Austria, pegawai negeri, yang pada masa
mudanya bercita-cita menjadi pendeta. Ayahnya pernah berjanji untuk tidak pulang
ke kampung halaman sebelum menjadi orang sukses. Setelah berumur 56 Tahun ayah
Hitler pulang kampung dan kemudian membeli sebidang tanah pertanian. Saat itulah
Hitler kecil terbiasa untuk bergaul dengan anak-anak desa yang tegap dan kumal.
Suatu hari Hitler menemukan buku militer di perpusatakaan Ayahnya. Dari buku-buku inilah Hilter menjadi antusias mengenai sesuatu yang berhubungan dengan perang, khususnya tentang keprajuritan. Hiler bertanya-tanya mengapa ada orang Jerman yang tidak mengikuti perang, ada orang Austria tidak membantu Jerman dalam peperangan. Dia kemudian menyadari tidak semua bangsa “beruntung” masuk kedalam kerajaan Bismarck—kerajaan Jerman—namun, Hitler tidak dapat mengerti alasannya. Karena kebingungan itu Hitler memutuskan untuk sekolah dan mempelajari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ayah Hitler menginginkan Anaknya agar menjadi pegawai negeri walau akhirnya Hitler memasuki sekolah Realschule-suatu sekolah sejenis SMK. Namun Hitler tak menyetujuinya bahkan menentangnya sehingga sepanjang hidupnya, Ayah Hitler menahan rasa getir akan nasib anaknya.
Hitler tak mau menjadi pegawai negeri. Berikut kutipan kata-katanya, “aku merasa teramat sangat muak sampai-sampai perutku sakit ketika mendengarnya. Dengan membayangkannya hanya duduk di sebuah kantor, tercerabut dari kebebasan, mengalah untuk menjadi tuan bagi waktuku dan dipaksa untuk mengabdikan seluruh hidupku untuk sebuah tempat kosong yang harus diisi.” Hiler ingin jadi pelukis.
Hitler kemudian memulai membahas tentang pentingnya Nasionalisme Jerman, menurut dia setiap orang Jerman sangat sensitive mendengar suara atau ajaran yang bukan Jerman, setiap orang Jerman bangga memakai symbol-simbol nasionalisme walaupun kemudian harus mendapatkan hukuman.
Hitler kemudian menyinggung bahwa pelajaran sejarah di sekolah tinggi berada dalam kondisi menyedihkan. Menurut Hitler, pelajaran sejarah seharusnya bukan hanya mempelajari tanggal-tanggal dan kejadian bersejarah dan kemudian menyebutkannya secara bergiliran tapi yang benar ialah, untuk mempelajari sejarah berarti untuk mencari dan menemukan kekuatan yang akan menjadi penyebab utama yang kita percayai sebagai sebuah kejadian sejarah. Pelajaran sejarah di sekolah tinggi sangat mempengaruhi Hitler.
Setelah ayah dan ibunya meninggal Hitler akhirnya pindah ke Wina, kota tempat dia ditempa sedemikian hebat oleh kelaparan dan kemiskinan
Suatu hari Hitler menemukan buku militer di perpusatakaan Ayahnya. Dari buku-buku inilah Hilter menjadi antusias mengenai sesuatu yang berhubungan dengan perang, khususnya tentang keprajuritan. Hiler bertanya-tanya mengapa ada orang Jerman yang tidak mengikuti perang, ada orang Austria tidak membantu Jerman dalam peperangan. Dia kemudian menyadari tidak semua bangsa “beruntung” masuk kedalam kerajaan Bismarck—kerajaan Jerman—namun, Hitler tidak dapat mengerti alasannya. Karena kebingungan itu Hitler memutuskan untuk sekolah dan mempelajari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ayah Hitler menginginkan Anaknya agar menjadi pegawai negeri walau akhirnya Hitler memasuki sekolah Realschule-suatu sekolah sejenis SMK. Namun Hitler tak menyetujuinya bahkan menentangnya sehingga sepanjang hidupnya, Ayah Hitler menahan rasa getir akan nasib anaknya.
Hitler tak mau menjadi pegawai negeri. Berikut kutipan kata-katanya, “aku merasa teramat sangat muak sampai-sampai perutku sakit ketika mendengarnya. Dengan membayangkannya hanya duduk di sebuah kantor, tercerabut dari kebebasan, mengalah untuk menjadi tuan bagi waktuku dan dipaksa untuk mengabdikan seluruh hidupku untuk sebuah tempat kosong yang harus diisi.” Hiler ingin jadi pelukis.
Hitler kemudian memulai membahas tentang pentingnya Nasionalisme Jerman, menurut dia setiap orang Jerman sangat sensitive mendengar suara atau ajaran yang bukan Jerman, setiap orang Jerman bangga memakai symbol-simbol nasionalisme walaupun kemudian harus mendapatkan hukuman.
Hitler kemudian menyinggung bahwa pelajaran sejarah di sekolah tinggi berada dalam kondisi menyedihkan. Menurut Hitler, pelajaran sejarah seharusnya bukan hanya mempelajari tanggal-tanggal dan kejadian bersejarah dan kemudian menyebutkannya secara bergiliran tapi yang benar ialah, untuk mempelajari sejarah berarti untuk mencari dan menemukan kekuatan yang akan menjadi penyebab utama yang kita percayai sebagai sebuah kejadian sejarah. Pelajaran sejarah di sekolah tinggi sangat mempengaruhi Hitler.
Setelah ayah dan ibunya meninggal Hitler akhirnya pindah ke Wina, kota tempat dia ditempa sedemikian hebat oleh kelaparan dan kemiskinan
Di Wina Hitler ingin memasuki sebuah akademi, Hitler sangat yakin dengan kemampuannya menggambar, namun ternyata Hitler ditolak masuk akademi. Hitler merasa sangat putus asa. Namun kemudian dia berketetapan untuk menjadi seorang arsitek.
Namun Hitler sering dikejar akan ketidakmampuan menghidupi diri sendiri, bahkan sering kelaparan. Untuk mengatasi kelaparan Hitler mengisi waktunya dengan mengunjungi opera, mempelajari arsitektur atau membaca buku sebanyak-banyaknya.
Menurut Hitler banyak buruh yang tidak punya keahlian sering berada di jalan untuk mengikuti demo kecil-kecilan kemudian dia juga menceritakan kehidupan seorang anak petani yang merantau ke kota yang sering kelaparan dan tidak punya uang yang akhirnya setelah lama menganggur walau bukan kesalahannya, dia akan menjadi bahan bagi sekelompok orang-orang yang mengeksploitasinya untuk keuntungan pribadi (kisah ini familiar bagi pembaca marxisme-ed).
Hitler melihat bagaimana seseorang dihancurkan begitu saja oleh kota dan pekerjaan serta penghasilan yang tidak tetap.
Pendapat Hitler terhadap anak-anak yang tidak mendapati pendidikan yang baik serta kondisi lingkungan yang kasar. “orang macam apa yang bagi siapapun tak terlihat baik, tak pernah menemui keberhasilan sama sekali. Kemudian berkenalan dengan kemuraman hidup lalu akan hidup sebagai orang baik-baik?
Komentar Hitler terhadap bidang politik : “bagiku, politik adalah tugas yang berat bagi setiap manusia yang terbiasa untuk berpikir ketat dan tajam. Siapapun yang gagal dalam memahami hal ini akan kehilangan haknya untuk mengkritik maupun mengeluh.”
Hitler pernah memasuki suatu organisasi Sosial Demokrat yang menurutnya hampir mirip dengan Marxisme, namun Hitler mengakui bahwa dia tidak terlalu mengerti mengenai Sosial Demokrat ini, memsuki organisasi ini hanya untuk memberi kesan yang baik bagi tempat bekerjanya.
Menurut Hitler ajaran Marxisme membuat anggotanya menolak hampir semua hal misalkan hukum yang menekan proletar, agama sebagai alat untuk eksploitasi rakyat bahkan negara yang dianggap sebagai alat Kapitalisme. Tertarik untuk berdebat dengan kaum komunis,
Hitler kemudian mempelajari buku,pamflet, serta berdiskusi untuk mengenal marxisme. Akhirnya ia kemudian berani untuk mendebat mereka. Yang ia dapati ialah mereka membalasnya dengan senjata untuk menaklukkan akal :teror dan kekerasan (Bersambung)

Komentar
Posting Komentar