Prinsip? Bantulah Dirimu Sendiri
Saya adalah orang yang banyak membaca dan memperhatikan berbagai tokoh-tokoh, baik itu tokoh terkenal seperti pejabat, pejuang (aktivis), tokoh agama, pengusaha maupun orang biasa di desa. Ada beberapa kesamaan yang saya temukan dari tokoh-tokoh baik itu. Persamaan mereka adalah mereka mempunyai prinsip-prinsip yang kuat seperti bertanggungjawab, pekerja keras, disiplin, tidak mudah putus asa, tahu apa tujuan hidup dan sasaran. Prinsip hidup yang sudah sering diulang-ulang dalam percakapan, bukan? Saya bahkan mendapati prinsip ini cukup sering baik dalam perenungan, pembacaan kitab suci, pembacaan biografi, mendengar debat, kuliah, khotbah, hingga perbincangan sehari-hari. Prinsip ini didapati dimana-mana, dari suku bangsa apapun, dari agama apapun, selalu mengatakan bahwa prinsip-prinsip ini harus dilakukan oleh setiap manusia.
Betapa mudahnya mengetahui prinsip ini, cukup meluangkan waktu ke perpustakaan daerah masing-masing dan pilihlah rak apa saja, anda akan segera menemukan prinsip-prinsip ini di halaman dua buku yang anda ambil karena biasanya setiap penulis memuat kata pengantar yang pasti akan berisi prinsip-prinsip ini. Namun, melaksanakan tidak semudah mengetahui dan mempelajarinya. Saya tidak tahu mengapa begitu sulit untuk melakukannya.
Kemalasan, kekurangajaran, apatis merupakan kebalikan dari prinsip hidup yang baik ini. Dan ini pun menjangkiti siapa saja yang tidak waspada sehingga merusak kebiasaan baik dan memperparah kerusakan jiwa manusia sehingga sifat ini layak kita sejajarkan dengan penyakit. Penyakit ini mengakibatkan rendahnya kreativitas hingga produktivitas yang tentu akan mengakibatkan kemiskinan dan rasa rendah diri bagi orang yang telah terjangkiti.
Sialnya, penyakit ini menjangkiti hampir semua anak muda bahkan mahasiswa yang saya kenal termasuk saya sendiri pun terkena penyakit ini. Padahal masyarakat sering membanggakan bahwa anak muda merupakan "agent of change" pelopor perubahan bagi bangsanya. Namun jika penyakit ini sudah menjangkiti "agent", apakah yang tersisa bagi masyarakat ke depan?
Siapakah yang menolong membimbing untuk melaksanakan prinsip ini? Saya mendapati jawabannya ialah tidak ada. Tidak ada seorang pun yang akan menolong. Masing-masing orang harus menyelamatkan dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar