Jangan Mau Disetir Pers

Oleh : Roy Lampos

Berita yang dibuat oleh pers tak pernah sepi. Akhir-akhir ini malah semakin gaduh. Mari kita lihat televisi, koran dan media sosial kita, yang kita dapatkan ialah pertentangan jessica-sianida, tax amnesty, kekacauan penyelenggaraan PON, bencana alam, kasus korupsi hingga pemilukada.
Media dalam menyajikan berita berlainan sudut pandang sehingga harus mengundang pengamat dalam interpretasinya. Berbagai silang pendapat diberikan para pengamat-entah itu pengamat politik atau ekonomi-sehingga menimbulkan kebingungan dan pertentangan pada masyarakat. Alih-alih menjadi media yang menyajikan fakta, pers malah menjadi alat pembentuk opini umum masyarakat. Tak berlebihan jika kita katakan bahwa opini dalam masyarakat terbentuk sesuai dengan media apa yang dilihat dan dibacanya.

Menurut Kierkegaard (seorang filsuf eksistensialisme), manusia dalam abad ini akan menjelma sebagai manusia massa. Massifikasi dan kolektivisme akan menjadi hantu-hantu yang memusnahkan ketunggalan kepribadian manusia. Dalam massa yang menyamaratakan itu individu pribadi terasing dari dirinya sendiri, mengalami alienasi diri, dan tidak menjalani eksistensinya secara sejati. Pers membentuk pendapat umum, dan oleh karenanya merupakan suatu pendapat yang anonim (Hassan,1989).

Kierkegaard mengatakan dalam jurnalnya : "Demoralisasi yang berasal dari pers dapat kita saksikan dari fakta ini. Tak ada sepuluh orang saja dalam setiap generasi yang berbicara sokratis, takut untuk dianggap berpendapat keliru; akan tetapi ada beribu-ribu dan berjuta-juta orang yang lebih takut lagi untuk berdiri sendiri, meskipun dengan pendapatnya yang lebih benar dari segala lainnya. Kalau suatu berita sudah dimuat dalam surat kabar, niscaya suatu jumlah yang lumayan di antara orang-orang itu memiliki pendapat itu atau akan menyatakannya". Begitu kerasnya Kierkegaard menentang pers sebagai pembentuk pendapat umum yang efektif, sehingga ia berkata : "Sesungguhnya, kalau pers ingin menggantungkan papan nama seperti halnya dengan perusahaan-perusahaan lain, maka yang seharusnya ditulis ialah : Disinilah manusia didemoralisasikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dalam jumlah yang sebesar-besarnya, dengan harga yang semurah-murahnya" (Hassan, 1989).

Saya menyimpulkan perkataan Kierkegaard itu sebagai berikut: jika ada manusia yang berpendapat, biasanya bukanlah hasil pikirannya sendiri tetapi hasil pembentukan opini pers yang dibaca, dilihat dan didengarnya. Pers menjadi pembunuh eksistensi manusia. Ia menjadikan manusia menjadi individu sepenuhnya tak bermakna dan tanpa tanggung jawab, atau setidak-tidaknya melemahkan rasa tanggungjawabnya oleh karena dikurangkannya rasa tanggung jawab itu menjadi sebahagian saja.

Timbulah pertanyaan, apakah kita tak perlu pers dan informasinya. Itu sama sekali bukan maksud saya. Harus kita akui bahwa pers mendekatkan kita dengan informasi. Kita dapat mengetahui keadaan nun jauh dari tempat tinggal kita. Dengan adanya banyak informasi dapatlah kita memperhitungkan untung-rugi bisnis kita, rencana pendidikan kita atau mempertimbangkan rencana perjalanan kita. Tetapi biarlah kita menggunakan akal pikiran kita untuk memilah antara fakta dan opini. Biarlah kita menjadi manusia yang mampu mempertahankan eksistensi, berani mengemukakan pendapat tanpa harus takut oleh penghukuman publik. Jangan Mau Disetir Pers.
Ini juga seruan kepada pers nasional, kembalilah kepada fungsi yang sudah diamanatkan UU No 32 tahun 2002, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial.
Salam.

Sumber inspirasi dan tulisan: Fuad Hassan. Berkenalan Dengan Eksistensialisme. 1989. Jakarta: Pustaka Jaya







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indjil dan Komunisme di Asia Afrika

Betapa Banyaknya Ilmu Yang Harus Dipelajari

Zinah