Refleksi Diri di Mentawai
Penghidupan. Lautan maha dalam, mukul dentur selama, nguji tenaga pematang kita, Mukul dentur selama, hingga hancur remuk redam, kurnia bahagia, kecil setumpuk, sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Puisi Chairil Anwar diatas menggambarkan dahsyatnya lautan namun tetap memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar pantai. Laut menyediakan ikan yang banyak : Kepiting, rumput laut dan berbagai summber daya lainnya. Puisi ini dengan tepat menggambarkan daerah tempat kami-Mahasiswa Universitas Andalas-melakukan Kuliah Kerja Nyata. Suatu surga dunia, pulau eksotis yang berada di sebelah barat pulau Sumatera, yaitu Kapupaten Kepulauan Mentawai.
Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki luas sebesar 6.001,35 Km persegi. Pulau yang terbesarlah pulau Siberut, pulau Sipora, pulau Sikakap. Dari ketiga pulau tersebut, pulau Sipora terpilih menjadi lokasi pengabdian bagi mahasiswa yang akan mengikuti KKN, yang terdiri dari desa Sipora Jaya dan desa Sido Makmur dan Bukit Pamewa. Awalnya yang menjadi lokasi KKN hanyalah desa Sipora Jaya dan desa Sido Makmur, namun pada acara penyambutan mahasiswa KKN asisten bupati meminta desa Bukit Pamewa diikutsertakan menjadi lokasi KKN. Bagi saya hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa KKN sangat dibutuhkan dan memiliki dampak penting bagi pengembangan masyarakat. Harapannya ditahun mendatang lokasi KKN di kepulauan Mentawai.
Pelaksanaan KKN diadakan selama 48 hari, dari tanggal 28 Juni hingga 14 Agustus. Perjalanan menuju kepulauan Mentawai diawali menaiki kapal laut dari pelabuhan Bungus, kota padang. Perjalanan ini menempuh waktu 10 jam, hingga pelabuhan Tuapeijat, ibukota Kapubaten Kepulauan Mentawai.
Terasa sangat bahagia ketika menginjakkan kaki di mentawai ini. Mentawai yang memiliki hembusan angin laut yang menyenangkan, pemandangan tatanan pulau nan hijau sangat memanjakan mata pengunjung. Ombak mentawai untuk surfing pun sudah diakui dunia, terbukti dengan berita majalah online Tempo menuliskan bahwa terdapat dua spot ombak di Mentawai yang masuk 10 besar titik ombak terbaik di dunia. Juga terdapat pantai yang pasirnya berwarna putih sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat berfoto dan berekreasi.
Setelah melakukan KKN selama 2 minggu, saat memasuki libur lebaran, sebagian teman pulang ke kampung halaman masing-masing. Untuk mengisi liburan tercetuslah ide untuk mengunjungi tempat surfing yaitu dusun Katiet. Di dekat dusun tersebut terdapat spot ombak yang masuk 10 besar terbaik dunia, Lances Right. Kami pun mempersiapkan perlengkapan, makanan dan transportasi untuk menuju kesana.
Dari desa Sipora Jaya hingga Katiet kami melewati sekitar 7 desa. Dari perbedaan ini terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Jika di desa Tuapeijat dan desa Sipora Jaya jalan sudah dibeton tetapi mulai desa Goisokoinan hingga Matobe jalan sudah rusak dan berlumpur. Biasanya untuk menghindari jalan rusak dan berlumpur kami harus melewati Pantai. Hanya di Mentawailah pantai menjadi jalan raya.
Pengunjung bisa menemukan jalan beton kembali metika memasuki desa Saureinuk. Di desa ini sudah sedikit maju, walau jauh dari dari ibukota Tuapeijat. Bila diamati banyak sekali pembangunan jalan yang dikerjakan terputus-putus. Layaknya pembangunan tanpa perencanaan.
Di desa Saureinuk, kami menemukan suatu makanan khas masyarakat yang dinamakan Toek.Toek merupakan ulat yang hidup di batang pohon yang direndam di sungai. Pohon ditebang kemudian dipotong-potong sepanjang 50-100 centimeter kemudian direndam di sungai selama 2 bulan. Pada kerat-keratnya muncul bintik-bintik yang menandakan pohon sudah berisi toek. Menurut warga sekitar, rasanya sedikit manis dan dingin, bahkan khasiatnya dapat memuluskan kulit apabila dikonsumsi rutin.
Jalan bagus itu berakhir di desa Sioban, tempat kami beristirahat dan makan siang. Setelah desa sioban kami menemukan jalan yang lebih parah dari sebelumnya. jalan yang kami hadapi ialah tanah yang lengket dan licin. Berulang kali kami harus mengangkat motor yang terjebak lumpur. tantangan tersulit ialah kami harus mendaki bukit yang sangat licin. Karena halangan-halangan itulah jam 12 malam kami masih di jalan. Tetapi walau begitu,dengan bekerjasama kami mampu melewatinya. Dari perjalanan ini dapat dilihat bahwa kerjasama merupakan hal yang sangat penting. Kami harus mengangkat motor bersama-sama, tidak ada yang dapat melewati lumpur itu sendirian.
Saya juga belajar bahwa semua orang itu mempunyai kelebihan. Ada seorang teman yang tidak terlalu kuat tenaganya tetapi ternyata sangat penting bagi kami. Dia menjadi penunjuk jalan yang sangat handal. Dia menjadi otak kami. Tahu jalan yang harus dilewati atau dihindari. Saat kami terjebak dalam lumpur dia selalu punya ide untuk mengungkit motor tersebut.Ada kawan lain yang juga tidak terlalu bertenaga tetapi saat kami mulai menyerah dia memberikan kami humor-humor yang segar, membuat kami tertawa. Perjalanan menjadi menyenangkan.
Sejak saat itu saya memegang prinsip : semua orang itu penting dan kita harus menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Satu sisi perjalan ini sangat menantang. Jiwa petualang anak muda kami bangkit. Namun, di sisi lain saya tertegun melihat jalanan yang rusak. Ternyata, masih banyak daerah yang belum tersentuh pembangunan. sementara daerah lain sudah memikirkan bagaimana meningkatkan kecepatan internet, daerah ini belum tersentuh aspal. Padahal Indonesia sudah merdeka 70 tahun dan kabupaten mentawai sudah berdiri 15 tahun. Dimana pemerintah selama ini? padahal kita tahu apabila jalan sudah dibangun maka perputaran ekonomi akan lebih lancar. Petani dapat menjual hasil usahanya dan masyarakat lebih mudah memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan rusaknya jalan-jalan di Mentawai, pantas saja barang-barang di Mentawai sangat mahal. Sebutir telur berharga 2500, seekor ayam ras berharga 60 ribu. barang-barang tersebut di datangkan dari padang. Bahkan sayur toge (yang sebenarnya dapat dibuat sendiri) dikirim dari padang. Sangat sedikit barang yang diproduksi di Mentawai.
Kami tiba di Lances right jam 1 dini hari, di depan sebuah warung kami mendirikan tenda kecil, hanya cukup untuk 2 orang. Kami memutuskan untuk tidur di teras warung saja. Tenda hanya dipakai untuk berganti pakaian. Tidak ada yang mengeluh, ini menjadi perjalanan paling menyenangkan dalam hidup kami.
Saat hampir semua teman sudah tertidur, saya dan dua teman yang lain pergi mengobrol dengan pengrajin yang tinggal di belakang warung tersebut. Mereka membuat berbagai macam kerajinan dari kayu seperti miniatur papan surfing, patung naga, miniatur buah-buahan, kalung, dll. Mereka menjual kerajinan tersebut pada turis yang datang ke Lances Right. Turis memang memberikan harga yang tinggi, 50 dolar. Tetapi baisanya turis yang datang ke Lances musiman, sekali dalam setahun. Turis yang datang kesini menggunakan kapal sewaan dan sangat jarang turis lokal datang melalui jalur laut. Seandainya jalan darat sudah baik, kerajinan tangan ini akan laku keras dibeli oleh turis lokal.
Setelah sarapan pagi dan berpamitan kami menuju Katiet. Sesampai di Katiet, seorang bapak yang mempunyai tempat penginapan memberikan sebuah kamar untuk kami tinggali. Bapak ini pernah menjadi kepala dusun Katiet. kami menanyakan pendapat bapak ini mengenai jalan yang rusak. Bapak ini menjelaskan dana pembangunan seperti PNPM-MP untuk membangun jalan tidak cukup. Walau dalam laporan dana mencukupi, tetapi pada kenyataan dana disunat sana-sini oleh oknum pemerintah. Mulai dari Kabupaten hingga kecamatan, sehingga hanya setengah yang sampai di masyarakat. jadi, untuk menutupi konsumsi pekerja seperti kopi dan rokok, masyarakat mengambil dana pembangunan yang sedikit itu dengan cara mengurangi takaran semen atau pasir. Inilah yang membuat jalan yang dibangun tidak bertahan lama. bahkan, cerita bapak itu, pasir yang digunakan didapat dari pantai. Padahal, sebagaimana kita tahu bahwa pasir pantai tidak baik untuk membuat jalan karena ukurannya yang seragam sehingga mengurangi daya lekat serta pengaruh terhadap kekuatan dan ketahanan beton.
Dari cerita bapak ini, saya mengambil kesimpulan pentingnya sebuah kejujuran dalam hal apapun. Karena ketidakjujujaran, dana yang seharusnya cukup menjadi kurang karena perilaku korupsi oknum pemerintah dan masyarakat.
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, pernah mengatakan mahasiswa yang titip absen dan nyontek sama dengan korupsi. mahasiswa harus menjadi Agent of Change, pemimpin perubahan. Suatu saat mahasiswa akan menjadi pemimpin, pegawai, dll yang memegang tanggungjawab penting untuk kehidupan masyarakat banyak. Dari sini saya bertekad untuk menjadi mahasiswa yang lebih jujur, bertanggungjawab dan disiplin agar kelak dapat mengabdi di tengah-tengah masyarakat, ikut serta dalam pembangunan dan memberikan pengaruh positif bagi orang sekitar.
Pelaksanaan KKN diadakan selama 48 hari, dari tanggal 28 Juni hingga 14 Agustus. Perjalanan menuju kepulauan Mentawai diawali menaiki kapal laut dari pelabuhan Bungus, kota padang. Perjalanan ini menempuh waktu 10 jam, hingga pelabuhan Tuapeijat, ibukota Kapubaten Kepulauan Mentawai.
Terasa sangat bahagia ketika menginjakkan kaki di mentawai ini. Mentawai yang memiliki hembusan angin laut yang menyenangkan, pemandangan tatanan pulau nan hijau sangat memanjakan mata pengunjung. Ombak mentawai untuk surfing pun sudah diakui dunia, terbukti dengan berita majalah online Tempo menuliskan bahwa terdapat dua spot ombak di Mentawai yang masuk 10 besar titik ombak terbaik di dunia. Juga terdapat pantai yang pasirnya berwarna putih sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat berfoto dan berekreasi.
Setelah melakukan KKN selama 2 minggu, saat memasuki libur lebaran, sebagian teman pulang ke kampung halaman masing-masing. Untuk mengisi liburan tercetuslah ide untuk mengunjungi tempat surfing yaitu dusun Katiet. Di dekat dusun tersebut terdapat spot ombak yang masuk 10 besar terbaik dunia, Lances Right. Kami pun mempersiapkan perlengkapan, makanan dan transportasi untuk menuju kesana.
Dari desa Sipora Jaya hingga Katiet kami melewati sekitar 7 desa. Dari perbedaan ini terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Jika di desa Tuapeijat dan desa Sipora Jaya jalan sudah dibeton tetapi mulai desa Goisokoinan hingga Matobe jalan sudah rusak dan berlumpur. Biasanya untuk menghindari jalan rusak dan berlumpur kami harus melewati Pantai. Hanya di Mentawailah pantai menjadi jalan raya.
Pengunjung bisa menemukan jalan beton kembali metika memasuki desa Saureinuk. Di desa ini sudah sedikit maju, walau jauh dari dari ibukota Tuapeijat. Bila diamati banyak sekali pembangunan jalan yang dikerjakan terputus-putus. Layaknya pembangunan tanpa perencanaan.
Di desa Saureinuk, kami menemukan suatu makanan khas masyarakat yang dinamakan Toek.Toek merupakan ulat yang hidup di batang pohon yang direndam di sungai. Pohon ditebang kemudian dipotong-potong sepanjang 50-100 centimeter kemudian direndam di sungai selama 2 bulan. Pada kerat-keratnya muncul bintik-bintik yang menandakan pohon sudah berisi toek. Menurut warga sekitar, rasanya sedikit manis dan dingin, bahkan khasiatnya dapat memuluskan kulit apabila dikonsumsi rutin.
Jalan bagus itu berakhir di desa Sioban, tempat kami beristirahat dan makan siang. Setelah desa sioban kami menemukan jalan yang lebih parah dari sebelumnya. jalan yang kami hadapi ialah tanah yang lengket dan licin. Berulang kali kami harus mengangkat motor yang terjebak lumpur. tantangan tersulit ialah kami harus mendaki bukit yang sangat licin. Karena halangan-halangan itulah jam 12 malam kami masih di jalan. Tetapi walau begitu,dengan bekerjasama kami mampu melewatinya. Dari perjalanan ini dapat dilihat bahwa kerjasama merupakan hal yang sangat penting. Kami harus mengangkat motor bersama-sama, tidak ada yang dapat melewati lumpur itu sendirian.
Saya juga belajar bahwa semua orang itu mempunyai kelebihan. Ada seorang teman yang tidak terlalu kuat tenaganya tetapi ternyata sangat penting bagi kami. Dia menjadi penunjuk jalan yang sangat handal. Dia menjadi otak kami. Tahu jalan yang harus dilewati atau dihindari. Saat kami terjebak dalam lumpur dia selalu punya ide untuk mengungkit motor tersebut.Ada kawan lain yang juga tidak terlalu bertenaga tetapi saat kami mulai menyerah dia memberikan kami humor-humor yang segar, membuat kami tertawa. Perjalanan menjadi menyenangkan.
Satu sisi perjalan ini sangat menantang. Jiwa petualang anak muda kami bangkit. Namun, di sisi lain saya tertegun melihat jalanan yang rusak. Ternyata, masih banyak daerah yang belum tersentuh pembangunan. sementara daerah lain sudah memikirkan bagaimana meningkatkan kecepatan internet, daerah ini belum tersentuh aspal. Padahal Indonesia sudah merdeka 70 tahun dan kabupaten mentawai sudah berdiri 15 tahun. Dimana pemerintah selama ini? padahal kita tahu apabila jalan sudah dibangun maka perputaran ekonomi akan lebih lancar. Petani dapat menjual hasil usahanya dan masyarakat lebih mudah memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan rusaknya jalan-jalan di Mentawai, pantas saja barang-barang di Mentawai sangat mahal. Sebutir telur berharga 2500, seekor ayam ras berharga 60 ribu. barang-barang tersebut di datangkan dari padang. Bahkan sayur toge (yang sebenarnya dapat dibuat sendiri) dikirim dari padang. Sangat sedikit barang yang diproduksi di Mentawai.
Kami tiba di Lances right jam 1 dini hari, di depan sebuah warung kami mendirikan tenda kecil, hanya cukup untuk 2 orang. Kami memutuskan untuk tidur di teras warung saja. Tenda hanya dipakai untuk berganti pakaian. Tidak ada yang mengeluh, ini menjadi perjalanan paling menyenangkan dalam hidup kami.
Saat hampir semua teman sudah tertidur, saya dan dua teman yang lain pergi mengobrol dengan pengrajin yang tinggal di belakang warung tersebut. Mereka membuat berbagai macam kerajinan dari kayu seperti miniatur papan surfing, patung naga, miniatur buah-buahan, kalung, dll. Mereka menjual kerajinan tersebut pada turis yang datang ke Lances Right. Turis memang memberikan harga yang tinggi, 50 dolar. Tetapi baisanya turis yang datang ke Lances musiman, sekali dalam setahun. Turis yang datang kesini menggunakan kapal sewaan dan sangat jarang turis lokal datang melalui jalur laut. Seandainya jalan darat sudah baik, kerajinan tangan ini akan laku keras dibeli oleh turis lokal.
Setelah sarapan pagi dan berpamitan kami menuju Katiet. Sesampai di Katiet, seorang bapak yang mempunyai tempat penginapan memberikan sebuah kamar untuk kami tinggali. Bapak ini pernah menjadi kepala dusun Katiet. kami menanyakan pendapat bapak ini mengenai jalan yang rusak. Bapak ini menjelaskan dana pembangunan seperti PNPM-MP untuk membangun jalan tidak cukup. Walau dalam laporan dana mencukupi, tetapi pada kenyataan dana disunat sana-sini oleh oknum pemerintah. Mulai dari Kabupaten hingga kecamatan, sehingga hanya setengah yang sampai di masyarakat. jadi, untuk menutupi konsumsi pekerja seperti kopi dan rokok, masyarakat mengambil dana pembangunan yang sedikit itu dengan cara mengurangi takaran semen atau pasir. Inilah yang membuat jalan yang dibangun tidak bertahan lama. bahkan, cerita bapak itu, pasir yang digunakan didapat dari pantai. Padahal, sebagaimana kita tahu bahwa pasir pantai tidak baik untuk membuat jalan karena ukurannya yang seragam sehingga mengurangi daya lekat serta pengaruh terhadap kekuatan dan ketahanan beton.
Dari cerita bapak ini, saya mengambil kesimpulan pentingnya sebuah kejujuran dalam hal apapun. Karena ketidakjujujaran, dana yang seharusnya cukup menjadi kurang karena perilaku korupsi oknum pemerintah dan masyarakat.
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, pernah mengatakan mahasiswa yang titip absen dan nyontek sama dengan korupsi. mahasiswa harus menjadi Agent of Change, pemimpin perubahan. Suatu saat mahasiswa akan menjadi pemimpin, pegawai, dll yang memegang tanggungjawab penting untuk kehidupan masyarakat banyak. Dari sini saya bertekad untuk menjadi mahasiswa yang lebih jujur, bertanggungjawab dan disiplin agar kelak dapat mengabdi di tengah-tengah masyarakat, ikut serta dalam pembangunan dan memberikan pengaruh positif bagi orang sekitar.


Komentar
Posting Komentar